Sabtu, 29 April 2017

Nyawa Manusia Murah Dalam Sistem Yang Salah

Nasib nahas mengakhiri hidup dua mahasiswi di ibu kota. Keduanya meregang nyawa dengan cara mengenaskan. Yang pertama yakni, Tri Ari Yani Puspo Arum, remaja 22 tahun mahasiswi Universitas Esa Unggul yang ditemukan lemah tak berdaya dalam kamar mandi di kamar kosnya wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (9/1) sekitar pukul 10.00 Wib. Saat ditemukan, sekujur tubuh Arum, begitu ia disapa penuh dengan luka. Yang lebih mengenaskan lagi, terdapat luka tusuk di bagian leher Mahasiswi jurusan Teknik itu. Arum sempat dilarikan ke RS Siloam, sayang nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Kuat dugaan, Arum menjadi korban pembunuhan.
Belum kasus pembunuhan Arum terungkap, keesokkan harinya sesosok jasad perempuan kembali ditemukan di Cipayung, Jakarta Timur. Diketahui jasad nahas tersebut bernama Murniati, kelahiran Jakarta, 10 Agustus 1996. Ditemukan penuh luka di tubuh Murniati, yakni luka lebam di pelipis kiri bekas benturan, luka robek di bibir kanan dan luka diduga bekas bekapan bantal. (merdeka.com)
Mungkin juga masih teringat di benak kita tentang banyaknya kasus-kasus serupa yang terjadi di tahun sebelumnya. Ada kisah pemerkosaan dan pembunuhan yang dialami oleh Eno Fariah (18 tahun) yang dilakukan oleh 3 orang pelaku (termasuk pacarnya). Kasus yang terjadi pada pertengahan tahun 2016 ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan kasus “cangkul” dan dinyatakan sebagai pembunuhan paling sadis yang pernah terjadi di Indonesia. Meski begitu, para pelaku kejahatan tersebut hanya dihukum penjara yang tidak seberapa dengan kejahatan yang dtelah dilakukannya.
Kemudian ada pula kasus pembunuhan terhadap Mirna yang diketahui dilakukan oleh Jessica yang hingga saat ini belum tuntas penyelesaiannya. Dan ribuan kasus lain yang menambah kepiluan hati nurani kita. Kata-kata “kok bisa sih?” itu sering kali muncul dan sering terdengar saat masyarakat memberikan komentar atas kejadian-kejadian tersebut. Apalagi hukum-hukum yang ditetapkan sering kali tidak sesuai dengan porsinya dan bahkan bersifat tumpul saat menjerat mereka yang punya harta dan kekuasaan.
Lalu sementara itu, Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, menilai sistem keamanan di setiap rumah kos harus ditingkatkan. Dia mengatakan hal itu untuk menanggapi aksi kriminalitas yang terjadi di kos-kosan di Jakarta. Sandiaga mencontohkan, saat blusukan ke Kelurahan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ada salah satu RW di kelurahan itu yang memasang 27 kamera CCTV. Pemasangan kamera CCTV disebut mengurangi aksi kriminalitas.  Sandiaga juga meminta Pemprov DKI Jakarta untuk lebih concern dalam mengatasi keamanan di Jakarta. (kompas.com)
Lantas benarkah demikian?? Yakinkah kita bahwa dengan pemasangan kamera CCTV bisa mengurangi aksi kriminalitas?
Pepatah “Lebih baik mencegah daripada mengobati” memang benar adanya. Tetapi seperti apa upaya pencegahan yang baik dan benar untuk masalah ini? Dengan pemasangan CCTV pun kadang masih saja bisa terjadi kasus kejahatan. Sebut saja kasus Pulomas yang baru-baru ini terjadi. Nyatanya kamera CCTV yang terpasang di rumah korban tidak berpengaruh terhadap niat pelaku untuk melaksanakan aksi kejahatannya. Semua masih bisa disabotase.
Bila ditilik dari berbagai narasi, ini membuktikan banyak hal. Pertama, moral yang ada di masyarakat seolah tidak ada lagi karena lunturnya kesadaran masyarakat dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Yang kedua, iman yang “katanya” ada di dalam diri pun hilang entah kemana karena kurangnya bahkan tidak adanya ketaqwaan pada diri individu-individu mereka. Ditambah kesempatan-kesempatan yang ada yang menjadi jalan tol bagi orang-orang yang memiliki niat jahat dan kriminal dalam dirinya.
Banyaknya kasus Pembunuhan sadis semakin sering terjadi, baik karena motif perampokan, asmara atau konflik keluarga, membuktikan bahwa saat ini manusia semakin luntur rasa kemanusiaannya akibat sistem kapitalisme yang banyak menghasilkan tekanan, mencontohkan kekerasan kesadisan, serta tidak mampu memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat. Sistem sanksi dalam kapitalisme yang tidak menjerakan pun membuat kasus-kasus penghilangan nyawa semakin menjamur.
Sebaliknya Islam dan negara khilafah menjaga terpeliharanya fitrah kemanusiaan, mencegah terjadinya pelanggaran hak dan memberikan sanksi tegas lagi menjerakan ketika terjadi tindak kejahatan.
Solusi atas kasus maraknya pembunuhan tidak bisa hanya dengan memasang CCTV, tapi harus dengan mencabut kapitalisme dari kehidupan masyarakat. Menggantinya dengan Islam agar ada penataan ulang konsep kehidupan bermasyarakat dan penerapan sistem sanksi yang bersumber dari Islam. Dengan itu akan tercipta ketaqwaan dalam diri setiap individu yang akan membuatnya takut dalam berbuat kejahatan dan takut berbuat maksiat kepada Allah. Dengan sistem islam pula dalam masyarakat dan bernegara akan terbangun ruh keislaman yang tinggi dan karya-karya besar akan diciptakan di sana, bukan menciptakan karya-karya manusia yang rusak seperti sekarang. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGAMBIL PERAN

Penderitaan dan kesusahan yang demikian berat telah dijalani rasulullah dan para sahabat ra dalam memperjuangkan Islam. Sekarang kita hanya...