Sabtu, 29 April 2017

Internet, si Pisau Bermata Dua

Perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin pesat. Menghapus batas wilayah hingga negara. Sifatnya yang mudah diakses membuat pengguna telepon dan akses internet dari tahun ke tahun semakin membludak. Dengan ini semakin banyak pula poin akses seperti warnet, wifi, 3G dan lainnya. Pemerintah negeri ini pun turut menyusun program tentang internet untuk sekolah-sekolah bahkan untuk yang di pelosok negeri sekalipun. Tentunya ini merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dan patut diapresiasi. Dengannya dunia terasa amat kecil. Apa yang terjadi di belahan dunia dengan mudah bisa terlihat dan diketahui oleh seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, kemudahan berinternet kini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di kota-kota besar tetapi juga oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana agar bisa memanfaatkan teknologi tersebut agar bisa membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Karena diakui atau tidak teknologi informasi ibarat pisau tajam bermata dua. Ia bisa menjadi positif atau negatif, bergantung dari penggunanya. Salah sedikit saja dalam memanfaatkannya akan berakibat sangat fatal. Lebih-lebih yang menyangkut etika dan akhlak generasi penerus, apabila menggunakan teknologi tersebut secara salah. Dengan sekali “klik” saja, hal-hal yang berbau porno dan budaya-budaya seputar syahwat misalnya, begitu mudah diakses kapanpun dan dimanapun. Kasus-kasus seperti penghinaan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, penipuan, pelecehan seksual, pornografi hingga penculikan dan bunuh diri begitu marak terjadi di dalam ruang maya tersebut.
Sebut saja kasus pembobolan jual-beli tiket online PT Global Networking yang baru-baru ini sedang heboh dibicarakan. Sultan Haikal yang baru berusia 19 tahun dan bahkan belum menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) disebut sebagai otak dari kasus pembobolan ini. Pada kamis kemarin (30/3) Haikal resmi menjadi tahanan Bareskrim Polri setelah ditangkap oleh Tim Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) di rumahnya, Situ Gintung, Tangerang Selatan. Sultan Haikal belajar secara otodidak untuk melakukan aksi peretasan bersama tiga orang lainnya, yakni MKU (19), NTM (20), dan Al (27). Mereka menamakan diri sebagai 'Geng Gantengers'. Kasubdit 1 Dittipidsiber Bareskrim AKBP Idham Wasriadi menjelaskan kepada salah satu media online bahwa Haikal mendapat Rp 5 miliar lewat situs penjualan tiket yang dia bobol. Haikal kemudian mengambil deposit tiket dan menjualnya.
Namun, dari kacamata digital forensic, apa yang dilakukan Haikal itu dianggap masih tidak terlalu rumit. Ahli digital forensic, Ruby Alamsyah malah menyebut aksi Haikal itu tergolong nekat. Ruby menyebut internet saat ini berkembang cukup pesat sehingga tidak mengherankan bila Haikal yang lulusan SMP saja bisa secara otodidak belajar meretas. Sebelumnya, Direktorat Siber Bareskrim Polri mengungkap kelompok peretas itu, dimana Haikal selaku otak kejahatan disebut sudah meretas berbagai situs seperti Go-Jek, tiket.com, dan 4.235 situs lainnya, termasuk situs milik Polri.
Dari sini bisa dilihat bahwa perkembangan teknologi (internet, e-commerce)  tanpa diiringi penanaman nilai dasar bagaimana memanfaatkannya secara benar serta minimnya edukasi publik membawa dampak banyaknya penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan kejahatan. Kasus pembobolan situs tiket online yang merugikan hingga milyaran rupiah dan dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa mengindikasikan lemahnya sistem pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada generasi terutama tentang penggunaan sarana dan teknologi. Penanaman nilai-nilai dasar yang dimaksud adalah berupa pembekalan akidah islam yang benar dan kokoh yang seharusnya diberikan kepada anak sedini mungkin. Tidak hanya di sekolah, namun akidah harusnya diberikan pula oleh orangtua dan keluarga di rumah. Ketika anak telah kokoh akidahnya, ilmu dan tekhnologi apapun yang dikuasainya akan membawanya menghasilkan karya besar yang bermanfaat untuk masyarakat, bukan malah berbuat kerusakan dan merugikan orang banyak. Inilah yang telah dilakukan oleh banyak para ilmuwan islam yang karya-karya besar mereka bisa dirasakan hingga sekarang. Pemerintah yang lebih fokus pada penetapan sanksi tanpa mengimbangi dengan perbaikan edukasi publik ini pun hanya akan menghasilkan solusi gagal. Potensi terjadi kejahatan serupa secara berulang juga akan tetap ada.

Karenanya perlu koreksi mendasar atas kurikulum pendidikan saat ini dengan islam agar selaras perkembangan zaman tanpa meninggalkan landasan islam sebagai ideologi dan perlunya penataan sistem ekonomi yang diiringi edukasi publik. Sebab sejatinya bila tekhnologi internet ini diakses untuk hal-hal yang bernuansa kemaslahatan ummat seperti dalam bidang pendidikan, dakwah, solidaritas sosial dan lain-lain, tentu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Untuk itu sangat penting adanya peran negara untuk ambil alih di dalamnya. Merombak sistem yang mengatur negeri ini sekarang menjadi sistem islam yang rahmatan lil’alamin yang dengan itu pula negeri tercinta ini akan bangkit menjadi mercusuar dunia. InsyaAllah.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGAMBIL PERAN

Penderitaan dan kesusahan yang demikian berat telah dijalani rasulullah dan para sahabat ra dalam memperjuangkan Islam. Sekarang kita hanya...