Perkembangan teknologi
informasi semakin hari semakin pesat. Menghapus batas wilayah hingga negara.
Sifatnya yang mudah diakses membuat pengguna telepon dan akses internet dari
tahun ke tahun semakin membludak. Dengan ini semakin banyak pula poin akses
seperti warnet, wifi, 3G dan lainnya. Pemerintah negeri ini pun turut menyusun
program tentang internet untuk sekolah-sekolah bahkan untuk yang di pelosok negeri
sekalipun. Tentunya ini merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dan patut
diapresiasi. Dengannya dunia terasa amat kecil. Apa yang terjadi di belahan
dunia dengan mudah bisa terlihat dan diketahui oleh seluruh dunia. Di
Indonesia sendiri, kemudahan berinternet kini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat di
kota-kota besar tetapi juga oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Yang perlu menjadi
perhatian adalah bagaimana agar bisa memanfaatkan teknologi tersebut agar bisa
membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Karena diakui atau tidak teknologi
informasi ibarat pisau tajam bermata dua. Ia bisa menjadi
positif atau negatif, bergantung dari penggunanya. Salah sedikit saja
dalam memanfaatkannya akan berakibat sangat fatal. Lebih-lebih yang menyangkut
etika dan akhlak generasi penerus, apabila menggunakan teknologi tersebut
secara salah. Dengan sekali “klik” saja, hal-hal yang berbau porno dan
budaya-budaya seputar syahwat misalnya, begitu mudah diakses kapanpun dan
dimanapun. Kasus-kasus seperti penghinaan, perselingkuhan, pencemaran nama
baik, penipuan, pelecehan seksual, pornografi hingga penculikan dan bunuh diri
begitu marak terjadi di dalam ruang maya tersebut.
Sebut
saja kasus pembobolan jual-beli tiket online PT Global Networking yang baru-baru ini sedang heboh dibicarakan. Sultan Haikal yang baru
berusia 19 tahun dan bahkan belum menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
disebut sebagai otak dari kasus pembobolan ini. Pada kamis kemarin (30/3)
Haikal resmi menjadi tahanan Bareskrim Polri setelah ditangkap oleh Tim Subdit
1 Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) di rumahnya, Situ Gintung,
Tangerang Selatan. Sultan Haikal belajar secara otodidak untuk melakukan aksi
peretasan bersama tiga orang lainnya, yakni MKU (19), NTM (20), dan Al (27).
Mereka menamakan diri sebagai 'Geng Gantengers'. Kasubdit
1 Dittipidsiber Bareskrim AKBP Idham Wasriadi menjelaskan kepada
salah satu media online bahwa Haikal mendapat Rp
5 miliar lewat situs penjualan tiket yang dia bobol. Haikal kemudian mengambil
deposit tiket dan menjualnya.
Namun, dari kacamata digital
forensic, apa yang dilakukan Haikal itu dianggap masih tidak
terlalu rumit. Ahli digital
forensic, Ruby
Alamsyah malah menyebut aksi Haikal itu tergolong nekat. Ruby menyebut internet
saat ini berkembang cukup pesat sehingga tidak mengherankan bila Haikal yang
lulusan SMP saja bisa secara otodidak belajar meretas. Sebelumnya, Direktorat
Siber Bareskrim Polri mengungkap kelompok peretas itu, dimana Haikal selaku
otak kejahatan disebut sudah meretas berbagai situs seperti Go-Jek, tiket.com, dan 4.235 situs
lainnya, termasuk situs milik Polri.
Dari
sini bisa dilihat bahwa perkembangan teknologi (internet, e-commerce) tanpa diiringi penanaman nilai dasar
bagaimana memanfaatkannya secara benar serta minimnya edukasi publik membawa
dampak banyaknya penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan kejahatan. Kasus
pembobolan situs tiket online yang merugikan hingga milyaran rupiah dan
dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa mengindikasikan lemahnya sistem pendidikan
untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada generasi terutama tentang penggunaan
sarana dan teknologi. Penanaman nilai-nilai dasar yang dimaksud adalah berupa
pembekalan akidah islam yang benar dan kokoh yang seharusnya diberikan kepada
anak sedini mungkin. Tidak hanya di sekolah, namun akidah harusnya diberikan
pula oleh orangtua dan keluarga di rumah. Ketika anak telah kokoh akidahnya, ilmu
dan tekhnologi apapun yang dikuasainya akan membawanya menghasilkan karya besar
yang bermanfaat untuk masyarakat, bukan malah berbuat kerusakan dan merugikan
orang banyak. Inilah yang telah dilakukan oleh banyak para ilmuwan islam yang
karya-karya besar mereka bisa dirasakan hingga sekarang. Pemerintah yang lebih
fokus pada penetapan sanksi tanpa mengimbangi dengan perbaikan edukasi publik ini
pun hanya akan menghasilkan solusi gagal. Potensi terjadi kejahatan serupa
secara berulang juga akan tetap ada.
Karenanya
perlu koreksi mendasar atas kurikulum pendidikan saat ini dengan islam agar
selaras perkembangan zaman tanpa meninggalkan landasan islam sebagai ideologi
dan perlunya penataan sistem ekonomi yang diiringi edukasi publik. Sebab
sejatinya bila tekhnologi internet ini diakses untuk hal-hal yang bernuansa
kemaslahatan ummat seperti dalam bidang pendidikan, dakwah, solidaritas sosial
dan lain-lain, tentu menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Untuk itu sangat penting adanya peran negara untuk ambil alih di dalamnya.
Merombak sistem yang mengatur negeri ini sekarang menjadi sistem islam yang
rahmatan lil’alamin yang dengan itu pula negeri tercinta ini akan bangkit
menjadi mercusuar dunia. InsyaAllah.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar